Tuesday, June 7, 2016

Mengenal tempat kelahiranku DOMPU

Nah karena lagi sibuk banget sama pekerjaan, dan juga lagi malas banget untuk menulis di blog maka aku mengulas tentang tempat kelahiran dan tempat bermain dan bersekolah di masa kecil aku yaitu Dompu.

Dompu sendiri terletak di Nusa Tenggara Barat atau disingkat NTB yang terdiri dari  Mataram(lombok), Sumbawa besar, Dompu, Bima #aku sebutin kabupatennya saja ya..# nah karena pengetahuan sejarahku sangat dangkal maka aku ambil info ini dari beberapa blog (sumber tertera di akhir tulisan). ok kita mulai.

Mengenal kebudayaan dan peduduk Dompu

Rimpu, pakaian tradisional kaum wanita Dompu


Suku Dompu tersebar di 4 kecamatan, yakni kecamatan Huu, kecamatan Dompu, kecamatan Kempo dan kecamatan Kilo. Mereka berkomunikasi sehari-hari menggunakan bahasa Dompu yang kadang disebut juga sebagai bahasa Nggahi Mbojo. Menurut cerita asal-usul Dompu, dahulu kala di daerah ini merupakan salah satu daerah bekas kerajaan, yaitu Kerajaan Dompu yang kemudian diperkirakan merupakan salah satu kerajaan tua.

Suku Dompu memiliki bangunan rumah tradisional, yaitu Uma Jompa dan Uma Panggu. Uma Jompa berfungsi sebagai lumbung padi. Sedangkan Uma Panggu adalah rumah yang terbuat dari kayu atau papan dan berbentuk panggung. Berdasarkan konstruksinya, Uma panggu dibedakan menjadi dua jenis. Pertama, Uma Ceko yang merupakan rumah asli Dompu, kedua, Uma Pa’a Sakolo yang dibawa masyarakat migran Bugis yang dibangun di daerah pesisir.
Uma Panggu
Salah satu kerajinan budaya, yang terkenal dari Dompu, adalah kain tenun Muna, yaitu kain songket Dompu atau Tembe Nggoli. Walaupun produksinya terkesan sama seperti Lombok dan Sumbawa, namun nilai budaya yang terkandung di dalamnya sangat tinggi dan terus turun-temurun antar generasi. Setiap perempuan Dompu wajib untuk bisa menenun dan tiap rumah wajib mempunyai perangkat alat tenun. Kain tenun Dompu ini sudah terkenal karena keindahan dan kehalusan kainnya jadi jangan lupa sisihkan dana Anda untuk membawanya sebagai oleh-oleh.

Nika Ra Nako

Tradisi upacara adat juga masih sering ditemui di wilayah penduduk asli Dompu, misalnya dalam upacara perkawinan Nika Ra Nako adalah perkawinan untuk rakyat biasa dan Campo ra kaboro adalah perkawinan bagi kaum bangsawan, ada juga Teka Ra Ne’e  adalah kegiatan menumbuk padi secara beramai-ramai ditempat berlangsungnya perkawinan, Kapanca yaitu upacara memberi rias titik-titik putih atau hitam pada dahi dan telapak tangan pengantin wanita, Lafa yaitu akad nikah yang menurut faham dan anutan masyarakat Dompu, Nenggu yaitu menunggu kedatangan suami untuk duduk bersanding, Tawori ro Pamaco yaitu pemberian selamat disertai hadiah. Untuk upacara kehamilan juga ada Salama Loko yaitu membetulkan letak bayi untuk usia kandung 7-8 bulan, Cafi Sari yaitu membersihkan lantai dari bekas-bekas persalinan, dan setelah proses kelahiran akan diadakan Boru yaitu mencukur rambut bayi dengan mencukur rambutnya dan menyentuhkannya dengan tanah, Suna Ra Ndoso yaitu acara sunatan bagi seorang anak, dan masih banyak lagi. 

Penduduk Dompu juga masih taat dalam mengenakan pakaian adat mereka di tengah kehidupan sehari-hari. Untuk wanita, mengenakan celana panjang sampai pangkal betis, baju kuru lengan panjang. Ketika keluar rumah memakai tenunan tembe nggoli atau tembe bali mpida dan to’du me’e. Pada saat menghadiri acara maka biasanya memakai Rimpu. Rimpu sendiri terdiri atas dua macam, yaitu: Rimpu Colo, untuk wanita yang sudah menikah dan Rimpu Mpida untuk wanita yang masih gadis atau remaja. Pakaian kaum laki-laki cenderung lebih sederhana yaitu memakai katente tembe seperti model celana pendek dari kain, badan diselubungkan dengan weri ditambah sambolo. Pakaian ini biasanya dipakai ketika ke sawah, ke gunung dan kesehariannya. Seiring perkembangan mereka mulai mengenakan baju koko, tembe dan sarowa dondo.

Pacoa Jara di Dompu

Budaya lainnya yang lekat dengan masyarakat Dompu adalah Pacuan Kuda ala Dompu, Pacoa Jara, di mana puluhan joki cilik berusia lima tahun sudah berani berkompetisi balap dengan kuda jagoan mereka. Kegiatan ini biasanya dilakukan di Arena Pacuan Kuda Tradisional, Desa Lepadi, yang terletak sekitar 5km di bagian selatan kota Dompu tapi seringkali juga diadakan di pantai Lakey. Seru, ya? 

Jika Anda menginginkan bentuk kebudayaan lain yang mencerminkan keindahan dan keanggunan, beberapa tarian khas Dompu bisa menjadi hiburan tersendiri, seperti Tari Sampela Ma Rimpu, yang menceritakan sampela Dompu yang hendak pergi mandi ke suatu telaga dengan rimpu kain yang berwarna warni, lalu Tari Mama Ra Isi, menceritakan gadis-gadis Dompu mempersiapkan mama ra isi menjelang kedatangan tamu, juga tak kalah menariknya Tari Muna Ra Medi, yang mengisahkan cara menenun mulai dari proses pembersihan kapas kemudian membuat benang dari kapas hingga menjadi selembar kain, mencerminkan gadis-gadis Dompu yang senantiasa mempertahankan, mengembangakan, melestarikan dan mempromosikan hasil tenun.

Ayo ke Dompu!

Sumber foto 1
Sumber foto 2
Sumber foto 3
Sumber foto 4

SUMBER



Artikel Terkait..

No comments:

Post a Comment